
Kegiatan Seba Baduy merupakan tradisi adat tahunan yang dilakukan oleh masyarakat Suku Baduy sebagai bentuk ungkapan syukur atas hasil panen sekaligus wujud ketaatan kepada pemerintah. Tradisi ini berasal dari wilayah Desa Kanekes, tempat tinggal masyarakat Baduy yang masih menjaga nilai-nilai leluhur dengan sangat kuat.
Dalam kegiatan ini, masyarakat Baduy—baik Baduy Dalam maupun Baduy Luar—berjalan kaki menempuh perjalanan jauh menuju pusat pemerintahan, seperti ke Kabupaten Lebak dan bahkan hingga Kota Serang. Mereka membawa hasil bumi seperti padi, pisang, gula aren, dan buah-buahan sebagai simbol persembahan dari alam kepada pemerintah.

Seba Baduy tidak sekadar perjalanan fisik, tetapi juga memiliki makna filosofis yang mendalam. Tradisi ini mencerminkan hubungan harmonis antara manusia, alam, dan pemimpin. Masyarakat Baduy menyampaikan pesan-pesan moral, nasihat, serta harapan agar pemerintah dapat menjaga keseimbangan alam dan kehidupan sosial.
Kegiatan ini juga menjadi simbol kerendahan hati dan kesederhanaan masyarakat Baduy. Dengan mengenakan pakaian adat khas—putih untuk Baduy Dalam dan hitam untuk Baduy Luar—mereka menunjukkan identitas budaya yang kuat serta komitmen untuk tetap menjaga tradisi di tengah perkembangan zaman.
Melalui Seba Baduy, nilai gotong royong, ketaatan, serta kecintaan terhadap alam terus diwariskan dari generasi ke generasi, menjadikannya salah satu warisan budaya yang sangat berharga di Indonesia.



